Siksaan Nikmat Adik Kelasku

Siksaan Nikmat Adik Kelasku

Siksaan Nikmat Adik Kelasku

Cerita Panas – Aku duduk di kelas 3 SMU saat ini. Namaku Teresia dan sering dipanggil icha, aku sangat terkenal di sekolah, teman-teman kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering mengusilli aku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah “geng” di sekolah, Nina dan Ririn adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi mereka seperti biasanya selalu ada.

Tahun ajaran baru kali ini sudah tiba, banyak adik-adik kelas baru yang baru masuk kelas 1. Rana Andhina, nama gadis itu, ia baru duduk di kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, lebih cantik dari aku, kulitnya putih bersih terawat, dengan wajah agak kebule-buRirinn dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Rana sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka suka berbagi fantasi seks mereka tentang Shery. Rana tidak seperti aku, ia gadis pendiam yang nggak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya.

Semakin hari Rana semakin terkenal, keegoisanku muncul ketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Rana, akhirnya aku, Nina dan Ririn merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Rana. Seperti aku, Rana juga anggota cheerRirinders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Rana untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, ia menolak, namun dengan segala upaya aku membujuknya sampai ia mau.

Sore itu, sekolah sudah sepi, tersisa aku, Nina, Ririn, Rana dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku.

“Kak, sampai kapan Rana mesti nunggu disini?”
“Udah tunggu aja, sebentar lagi!!”

Rana mulai kelihatan cemas, ia mulai curiga terhadapku.

“Sudah beres Non” Tejo si penjaga sekolah melapor padaku.
“Oke” jawabku.

Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya.

“Ya udah, ikut gue sekarang!!” perintahku untuk Rana.

Dengan ragu-ragu, Rana mengikuti aku, Ririn dan Nina. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerRirinders. Rana menangis karena bentakan dari aku, Nina dan Ririn, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis.

“Rana salah apa Kak?” ia menangis terisak-isak.
“Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak lagak, lo mau nyaingin kita-kita yang senior? hormatin dong!!” bentakku
“Nggak kok Kak, Rana nggak begitu”
“Nggak apaan? Nggak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!” Ririn menambahkan bentakanku.

Setelah puas membentak-bentak Rana, aku memberi tanda kepada Nina. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Tejo, Seno, Made dan Rio. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Rana saat itu terkejut dan sangat ketakutan.

“He.. he.. he.. ini dia Non Rana yang ngetop itu” Rio berujar sambil tersenyum menyeringai.
“Cantik banget, sexy lagi..” tambah tejo. Rana gemetaran ia terlihat sangat takut.
“Sikat aja tuh!!” perintahku pada 4 pria itu.
“Oke, sip bos!! He.. he.. he..” Tejo menyeringai.

Nina yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Rio mencengkram tangan kanan Rana, sementara Made mencengkram tangan kirinya. Tubuh Rana mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Rana terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong.

“Gue duluan ya” Tejo mendekati Rana.
Aku hanya tersenyum melihat keadaan Rana sekarang, aku puas melihat ia ketakutan.
“Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?” Rana memohon ampun.

Tapi Tejo sudah tidak perduli lagi dengan permohonan Rana, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perlahan Tejo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Rana, Rana menjerit ketakutan. Tanpa menghiraukan teriakan Rana, Tejo meremas-remas payudara Rana perlahan-lahan.

“Yang kenceng Jo!!” perintahku.

Tejo mengeraskan cengkramannya di buah dada Rana. Rana berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Rana saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Tejo membuka seragam SMU Rana kancing demi kancing sampai payudara Rana yang tertutup BH terlihat.

“Gila!! Seksi banget nih toket, putih banget!!” sahut Tejo sambil tertawa gembira.
Perlahan Tejo menyentuh kulit payudara Rana, Rana pun terlihat gemetaran.
“Tolong jangan Pak!!” sahut Rana memelas.

Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Tejo menanggalkan penutup payudara Rana itu. Tejo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Rana itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Rana indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku.

“Abisin aja Pak!!” Ririn meminta Tejo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Rana.

“Ok Rana sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh..” Tejo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Made dan Rio yang masih memegangi tangan Rana supaya ia tidak melawan, sementara Seno berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya.
“Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Rana..” Rana memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli.

Sama sepertiku, Tejo juga tidak perduli dengan permintaan Rana. Tejo mulai memainkan tangannya di payudara Rana, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus dan menekan-nekan puting payudara Rana dengan jarinya. Made dan Rio tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Rana dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas.

“Ah.. cukup Pak.. ampun Kak..” Rana mulai mendesah.

Tejo kian bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Rana, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Rana ketika bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan.

Melihat suasana yang panas itu, Seno akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Rana. Seno dan Tejo saling berbagi payudara Rana, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Rana dan menjalar dengan liar di sekitar puting payudara Rana, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting payudara Rana. Rana mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Nina pun beraksi merekam seluruh kejadian yang menimpa payudara Rana dengan seksama melalui handy cam-nya.

Tejo menurunkan ciuman dan jilatannya ke perut Rana yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Rana yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Shery. Tejo berhenti dan menyuruh Seno yang sedang menikmati puting payudara Rana berhenti. Tejo lalu mulai menyingkap rok sekolah Rana, sambil mengelus paha Rana. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Rana yang mulus dan putih itu. Tangan Tejo perlahan naik menyentuh selangkangan Rana yang ditutup celana dalam pink itu.

“Jangan Pak!! Ampun!!” Rana memohon pada Tejo. Seno pun ikut mendekat ke Tejo.
“Wah, Celana dalam Non Rana lucu sekali..” ejek Seno.

Tejo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Rana. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya.

“Wow Non Rana!! Vaginanya indah banget!!” Tejo tampak bersemangat.

Vagina Rana memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Rana sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya, ia membiarkan vaginanya tertampang mulus tanpa rambut kemaluan. Perlahan tangan Tejo dan Seno menjelajahi paha, dan sekitar selangkangan Rana. Rana hanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu.

Tak lama kemudian tangan Tejo dan Seno, tiba di bagian vital Rana. Dengan nafsu membara, Seno membuka bibir vagina Rana, sementara Tejo memasukkan jarinya kedalam liang vagina Rana. Perlahan jari tangan Tejo menyolok-nyolok vagina Rana, dan makin lama gerakannya makin cepat. Tubuh Rana nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Rana mendesah perlahan.

Tejo dengan pandai memainkan kecepatan jarinya menyolok-nyolok vagina Rana, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Tejo menembus liang vagina Rana, dari bibir vagina Rana kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Rana terangsang.

“Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?”
“Jangan Pak, tolong!!” Rana memohon.

Tejo tidak mempedulikan permohonan Rana, Jarinya keluar masuk vagina Rana dengan cepat.

“Ahh.. stop Pak!! Tolong..!” Rana kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan.
“Ahh..!” Rana teriak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya.
“Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. ” aku meledek Rana, aku membayangkan jika aku dalam posisi Rana, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme.
“Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!” Ririn ikut mengejek.

Tejo menghentikan jarinya yang menyolok-nyolok vagina Rana, nampaknya ia belum mau Rana mencapai puncaknya. Namun aku sudah tak sabar, dendam di dadaku terus membara ingin mempermalukan Rana. Kutarik jari Tejo keluar dari vagina Rana, lalu kudorong tubuhnya menjauhi Rana.

“Lho Non.. saya belum puas nih..” Tejo terlihat bingung.
“Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!” bentakku pada Tejo.

Saat kulihat Rana dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Rana. Tertampang jelas keindahan vagina Rana di mataku, bibir vaginanya yang memerah karena gesekan jari Tejo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahan kudekatkan wajahku ke vagina Rana, dan kucium harum vagina Rana, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanya dengan lidahku.

Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Rana terlihat sangat kaget.

“Waduuh.. Non Icha ternyata juga mau ngerasain vagina Non Rana ya?” Seno berseloroh meledek.
“Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah horni nih..” Tejo menimpali.

Aku tak perduli dengan ledekan Tejo dan Seno, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Rana malu di tanganku.

“Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak..” Rana mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang. Kubasuh vagina Rana dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan erotis. Kutelusuri bibir vagina Rana dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya.

Tak berapa lama kutemukan klitoris Rana, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yang ada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual.

“Ahh.. ah.. ah..” Rana tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Rana menggelinjang kesana kemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolahnya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Rana memuncratkan cairan-cairan kewanitaan yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Rana dalam-dalam.

Baca Juga Perselingkuhan Panasku

Hampir 5 menit kunikmati vagina Rana, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang dibanjiri keringat. Rana hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Tak berapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Rana agak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saat itu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat. Rana terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Tejo, Rio, Made dan Seno hanya bisa terpaku menatap aku dan Rana, sementara Ririn dan Nina terlihat puas melihat “siksaan”ku terhadap Rana. Aku berdiri setelah istirahat sejenak.

“Gilaa!! Non Icha hebat!! Saya jadi horni banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu” Rio angkat bicara.

Kutatap Rana yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam.

Kulebarkan kedua kaki Rana sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubuka seragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Rana, kubuat ia telanjang bulat.

Posisi kaki Rana yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membuka bibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Rana. Posisi tubuhku dan Rana Seperti dua gunting yang berhimpitan pada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Rana yang masih terkulai lemas itu.

“Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah..” Rana mendesah memohon padaku.

Tanpa perduli pada Rana, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Rana. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Rana yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Rana bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, serta vaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Rana. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Rana, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar.

Di tengah deru nafasku yang saling memacu dengan nafas Rana, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu Seno, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku.

“Saya juga ikutan ya Non Icha? Habis Non Icha bener-bener hot sih” permintaan Seno kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalam lautan kenikmatan.

Kulirik Rana yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Seno melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku.

“Non Icha, saya nggak tahan lagi nih..” permintaan Seno kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku.

Dengan sedikit hentakan, penis Seno menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku.

“Aaah.. lobang Non Icha masih rapet banget nih..” Seno mencoba menekan pinggulnya untuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Rana, Seno juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Seno menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya.

Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Rana berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Seno yang mencapai orgasme bersamaan, ditandai semburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamku terbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Rana beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya “penyiksaan” ini dimulai lagi.

Aku duduk menjauh dari Rana, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Ririn, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Tejo, Made dan Rio mendekati tubuh Rana yang tergeletak tak berdaya. Ririn memberi tanda pada Rio yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Rio memegang pinggul Rana yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Rana kini telungkup dengan memperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi.

“Nah, Non Rana siap-siap ya!” Rio berujar sambil mengangkat pinggul Rana sampai ia dalam posisi menungging. Rana cuma bisa menunggu siksaan apa lagi yang akan diterimanya dengan pasrah. Meski tubuh Rana tampak lemas, ia masih saja menggairahkan. Seketika saja Rana mendesah pelan, Rio dengan nafsunya meremas bongkahan pantat Rana sambil mengelusnya.

“Hajar aja!!” perintah Ririn.

Setelah mendengar perintah Ririn, Rio yang sudah menunggu dari tadi langsung melesakkan penisnya yang menegang itu ke lubang vagina Rana. Wajah Rana terlihat terkejut sambil menahan sakit. Ukuran penis Rio yang besar memaksa masuk ke lubang vagina Rana yang rapat itu. Rana berteriak tiap kali Rio mendorong penisnya masuk.

“Vagina Non Rana rapet banget nih, aahh..” Rio berkata sambil mendorong penisnya lagi memasuki vagina Rana.

Setelah seluruh penis Rio masuk dalam lubang vagina Rana, Rio berhenti sejenak, ia membiarkan Rana mengambil nafas sejenak. Namun Rio tidak membiarkan Rana berlama-lama, perlahan-lahan ia mulai memompa penisnya didalam vagina Rana. Gerakan Rio makin cepat, deru nafas Rana dan Rio terdengar keras dibarengi gerakan mereka yang seirama. Sambil terus memompa penisnya, Rio memainkan tangannya menjelajahi pantat dan pinggul Rana yang basah oleh keringat. Sekali lagi Ririn memberi tanda, Rio mempercepat lagi gerakannya, membuat tubuh Rana bergerak kian liar. Tejo maju menghampiri Rana, ia berdiri di depan wajahnya. Tejo mengangkat tubuh Rana sampai ia dalam posisi merangkak.

“Aaah.. cukup Pak.. ah..” Rana memohon pada Tejo.

Dengan senyum mengejek Tejo memaksa Rana membuka mulutnya. Dengan nafsu yang membara ia memaksa penisnya masuk ke bibir mungil Rana.

“Ayo isep penis saya Non!! isep!!” Paksa Tejo.

Karena ketakutan, Rana dengan pasrah menerima batangan penis Tejo menembus bibirnya. Besarnya penis Tejo nampak memenuhi seluruh mulut Rana. Tak bisa kubayangkan betapa puasnya Tejo, ketika gadis SMU secantik Rana kini sedang mengulum penisnya.

Dari jauh kulihat Rana menangis, airmata jatuh ke pipinya, ia merasa terhina dan jijik. Dendamku benar-benar terbalas, Rana benar-benar menderita. Dibalik semua itu aku juga merasa kasihan padanya. Tejo mulai memompa penisnya, melakukan gerakan maju mundur dihadapan wajah Rana. Kini mulut dan vagina Rana telah dipompa dua batang penis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat tubuh Rana terlihat berkilau seksi. Hanya Made saja yang belum menikmati Rana, kini ia naik keatas meja, lalu memposisikan dirinya diatas punggung Rana seolah-olah ia sedang menaiki kuda. Made meletakkan penisnya diatas punggung Rana, sambil kemudian ia gesekkan. Tangan Made menjelajah kedua payudara Rana yang tergantung.

Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Rana, tak bisa kubayangkan perasaan Rana saat ini. Vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Rio berejakulasi di dalam liang vagina Rana, sperma yang melimpah keluar dari penis Rio mengalir keluar melalui liang vagina Rana, seketika itu juga Rana bergumam sembari menaikkan pinggulnya, ia berorgasme. Setelah Rio puas membasahi vagina Rana dengan spermanya, giliran Ririn menggantikan posisi Rio. Dengan liar, Ririn menjilati vagina Rana yang masih basah oleh sperma Rio.

Selang berapa menit kemudian Tejo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Rana sembari memuncratkan spermanya di wajah Rana, kulihat Rana menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Rana sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini.

Setelah Tejo, giliran Made berejakulasi diatas punggung Rana. Sperma Made nampak membasahi kulit punggung Rana yang putih mulus. Seno yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Ririn yang kini merubah posisi Rana menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Rana keatas.

Penis Seno yang ekstra besar itu menembus vagina Rana, dan dengan liar memompa tubuh Rana. Rana yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Seno memompa penisnya didalam vagina Rana sampai akhirnya gerakan Seno dipercepat, Rana berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Seno berejakulasi di luar vagina Rana, ia membiarkan spermanya jatuh membasahi selangkangan Rana.

Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Rana yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Rana hanya tergeletak diatas meja itu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Tejo, Seno, Rio dan Made. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas.

“Nah, sekarang kapok kan lo?” bentak Ririn kepada Rana.
“Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. ”
“Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!” bentak Ririn.
“Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!” bentakku.
“Enak Kak..” jawab Rana ketakutan.
“Enak?! lo seneng dientot?!” bentak Ririn lagi.
“Iya Kak.. enak sekali.. nikmat..” Rana menjawab.
“Lo mau lagi?!” Nina yang dari tadi diam kini bicara.
“Ma..mau Kak..” jawab Rana.

Aku, Ririn dan Nina saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Rana kini menjadi bagian gengku, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Rana, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *