Kisah Panas Kemah Di Puncak

Kisah Panas Kemah Di Puncak

Kisah Panas Kemah Di Puncak

Kisah Dewasa Terbaru – Cerita ini terjadi kurang lebih dua belas tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 2007). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Roni, dan Decki memilih mencari kayu bakar, sedangkan Roy, Ines dan Laras tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Laras memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Roy adalah pacar Ines, dan Laras tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Roy dan Ines tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Roni, Decki, aku dan Laras) segera melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Ines sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Laras. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Laras sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Laras sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Ines.

Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Roy dan Ines di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Roni mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Laras boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Laras setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Roni dan Decki turun ke sungai, lalu mandi di situ. Laras kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Laras menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Laras (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Roni yang pandai berenang segera menjemput Laras, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Decki menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Laras basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Roni menyentuh buah dada Laras. Karena Laras memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Laras yang sangat menggairahkan.

Laras merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Decki terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Roni yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Laras lalu mencopot celana jeans Laras sampai lutut. Laras berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Roni lakukan terhadap Laras. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Roni. Aku hanya menduga, Roni hendak memeriksa luka Laras. Tapi dengan melorotnya jeans Laras sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam Laras yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

Roni memerintahkan aku dan Decki memegangi kedua tangan Laras. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Laras semakin meronta sambil menghardik, “Roy, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

Decki secepat kilat membungkam mulut Laras dengan kedua telapak tangannya. Roni setelah berhasil mencopot celana jeans Laras, sekarang mencoba mencopot celana dalam Laras. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjRoni. Aku tidak berani melarang Roni dan Decki, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Laras yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

Laras semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Decki membuat usahanya sia-sia belaka. Roni segera berlutut di antara kedua belah paha Laras. Tangan kirinya menekan perut Laras, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Laras. Laras semakin meronta, membuat Roni kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Decki mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Laras sambil tangannya terus membungkam mulut Laras. Tiba-tiba Laras berteriak keras sekali.

Baca Juga Siksaan Nikmat Adik Kelasku

Rupanya Roni berhasil merobek selaput dara Laras dengan penisnya. Secara cepat Roni menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Laras meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

Decki melepaskan telapak tangannya dari mulut Laras karena dia merasa Laras tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Laras ke atas. Di luar dugaan, Laras kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Decki dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Laras dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

Decki segera menjilati puting susu Laras, sementara aku melihat Roni semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Laras yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Laras. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Laras rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

Tiba-tiba aku mendengar Roni menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Laras. Setengah menit kemudian Roni beranjak pergi dari tubuh Laras lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Decki menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Laras. Sepintas aku melihat sperma Roni mengalir ke luar dari mulut vagina Laras. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Laras yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjRoni satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Laras.
Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Laras. Decki dan Roni menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Laras. Aku peluk erat Tubuh Laras sampai dia tidak dapat bernafas.

Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Decki. Aku lalu duduk di samping Roni memandangi Decki yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Laras. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

Beberapa menit kemudian Decki ejakulasi di dalam vagina. Setelah Decki puas, ternyata Roni bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Laras. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Laras hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

Ternyata Roni hendak melakukan anal seks. Laras menjerit saat anusnya ditembus penis Roni. Mendengar itu Roni malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Laras ke belakang hingga muka Laras menengadah ke atas. Dengan sigap Decki menghampiri tubuh Laras. Aku melihat Decki dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Laras. Laras mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Roy”. Tapi Roni dan Decki tidak menghiraukannya.

“Oh, sempit sekali”, teriak Roni mengomentari lubang dubur Laras yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Roni menarik penisnya aku lihat dubur Laras monyong. Sebaliknya saat Roni menusukkan penisnya, dubur Laras menjadi kempot. Tidak lama, Roni mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Decki menyodomi Laras. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Laras. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

Setelah Decki puas, Roni dan Decki menyuruhku menikmati tubuh Laras. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Roni dan Decki segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Laras dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Laras mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Roni dan Decki menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Laras dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Roni dan Decki berjalan tujuh meter di depanku dan Laras.

Di perkemahan, Roy dan Ines menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Roy dan Ines percaya, dan Laras hanya diam saja.

Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Roy berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

Esoknya, pagi-pagi sekali Laras minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Laras merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Laras menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Laras minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

Akhir Desember 2007 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *